Aktivitas & Budaya Desa

Degung

Degung

Merupakan salah satu kesenian tradisional yang masih dijaga oleh masyarakat Desa Cikalong. Kesenian ini dimainkan menggunakan seperangkat alat musik gamelan yang menghasilkan suara lembut dan khas, biasanya mengiringi acara adat, penyambutan tamu, hingga kegiatan keagamaan. Permainan degung ini biasanya diiringi bersamaan dengan pupuh dan nyinden. Selain sebagai hiburan, Degung juga menjadi simbol penghormatan terhadap tamu dan bentuk rasa syukur atas nikmat Tuhan

Eok Beluk

Eok Beluk

Adalah kesenian vokal tradisional khas Sunda yang dulunya berfungsi sebagai media komunikasi sesama warga Sunda. Lewat lantunan vokal yang khas dan tanpa iringan musik, masyarakat zaman dulu menyampaikan pesan, nasihat, dan nilai kehidupan secara lisan dalam bentuk tembang. Suara yang melengking dan berirama ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga sarana penyampaian tradisi, ajaran leluhur, serta ungkapan rasa syukur. Saat ini, Eok Beluk masih dijaga dan ditampilkan dalam acara budaya seperti Festival Budaya. Keberlangsungannya menjadi bukti hidupnya warisan budaya lisan yang bernilai tinggi di tengah masyarakat Desa Cikalong.

Hari Jadi Desa

Hari Jadi Desa

Biasanya diperingati setiap tanggal 15 September, bertepatan dengan masa panen para petani. Perayaannya tidak hanya terpusat di satu tempat,tetapi tersebar di berbagai lokasi terbuka, mulai dari lapangan desa, area persawahan, sampai titik-titik yang dianggap sakral oleh warga. Perayaan ini terdiri dari berbagai kegiatan tradisional yang menyentuh hampir seluruh aspek kehidupan budaya desa yaitu Babarit, Festival Seni Budaya, Festival Layang-Layang dan Pawai Petani, serta Sosialisasi Pemerintah Desa.

 Kesenian Ronggeng Gunung

Kesenian Ronggeng Gunung

Adalah tarian tradisional khas Jawa Barat yang sarat makna, mulai dari legenda kepahlawanan hingga kisah cinta dan balas dendam. Di Desa Cikalong, Kabupaten Pangandaran, kesenian ini masih hidup dan menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat. Selain sebagai hiburan, Ronggeng Gunung sering hadir dalam berbagai upacara adat seperti panen raya, khitanan, dan pernikahan, mencerminkan kehidupan agraris serta rasa hormat kepada leluhur. Warisan ini menjadi kebanggaan lokal yang terus dijaga oleh warga setempat.

Nampaling

Nampaling

Adalah tradisi turun-temurun masyarakat Desa Cikalong, Pangandaran, berupa kegiatan menangkap belalang (simeut) di sawah menggunakan alat tradisional bernama Tampaling. Tradisi ini sudah ada sejak tahun 1600-an dan awalnya bertujuan untuk mengusir hama, namun kini menjadi warisan budaya yang mempererat kebersamaan warga. Nampaling biasanya dilakukan saat panen padi, terutama pada bulan September, ketika belalang banyak ditemukan di sawah. Tradisi ini terus dilestarikan karena menjadi identitas dan simbol kekompakan masyarakat Cikalong

Seni Ngampihan Pare (Rengkong)

Seni Ngampihan Pare (Rengkong)

Merupakan tradisi arak-arakan mengangkut padi dari sawah ke lumbung secara bersama-sama oleh warga. Rengkong adalah seni tradisional yang menggunakan sebatang bambu panjang sebagai alat pengangkut, di mana beberapa ikatan padi diikatkan dan menghasilkan suara khas dari benturan bambu dan beban padi saat dibawa berjalan. Tradisi ini bukan sekadar kegiatan fisik, tetapi juga menjadi simbol rasa syukur atas hasil panen serta melambangkan semangat gotong royong dan kebersamaan masyarakat dalam menjaga warisan budaya.

Tradisi Babarit

Tradisi Babarit

Merupakan salah satu kebiasaan masyarakat Desa Cikalong yang dilaksanakan sebagai bentuk ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dan alam atas segala kenikmatan yang telah diberikan. Selain sebagai wujud syukur, di dalamnya tertuang harapan dan doa seluruh masyarakat Desa Cikalong, agar senantiasa diberikan keberkahan, keselamatan, dan kesejahteraan dalam kehidupan mereka.

Tradisi Hajat Bumi dan Ngabuku Taun

Tradisi Hajat Bumi dan Ngabuku Taun

Dilaksanakan setiap tahun sebagai wujud syukur atas hasil panen dan keseimbangan manusia-alam-spiritual, sekaligus mempererat silaturahmi melalui gotong royong. Pelestariannya didukung oleh peran aktif tetua adat, tokoh masyarakat, dan pemuda melalui pendidikan informal, dokumentasi, dan kolaborasi dengan akademisi. Namun, tradisi ini menghadapi tantangan modernisasi, menurunnya minat generasi muda, dampak pandemi, dan tekanan ekonomi. Masyarakat berharap kolaborasi antara warga, pemerintah, dan akademisi dapat mempertahankan tradisi ini sebagai sumber inspirasi dan mengintegrasikan kearifan lokal dalam pembangunan berkelanjutan.

Tradisi Nyusur Tanah

Tradisi Nyusur Tanah

Adalah upacara adat pasca-pemakaman yang melibatkan tokoh adat, tokoh agama, keluarga, dan masyarakat sebagai bentuk penghormatan serta pengingat akan asal usul manusia. Tradisi yang telah berlangsung sejak ratusan tahun lalu ini. mengajarkan nilai spiritual, gotong royong, dan pelestarian budaya leluhur.